- See more at: http://blog-rangga.blogspot.com/2013/08/cara-membuat-blog-anti-copy-paste-dan.html#sthash.DpINzk8A.dpuf

Kamis, 27 Maret 2014

Curahan hati untuk Tuhan...



Tuhan, malam ini aku merasakan hatiku bergemuruh pilu saat kalimat istigfar terucap dari bibirku yang ikut basah tertetesi air mata yang jatuh dari pelupuk mataku. Tubuhku mendadak lemas tak berdaya di hadapan-Mu.
Tuhan, aku tahu bahwa rencana-Mu jauh lebih indah dari apa yang kuinginkan selama ini. Aku ikhlas menerima semua cerca yang hamba-Mu dari golongan Adam ucap terhadapku. Aku ikhlas merasakan perihnya hati saat aku tahu dia berkhianat dari janjinya kepadaku. Aku ikhlas menghadapi semua ujian hidup yang Kau beri untukku. Aku ikhlas atas nama-Mu, Tuhan...
Tuhan, kehilangan seseorang yang sangat berarti dan sangat dicinta adalah duka terdalam yang seringkali kurasakan. Keputusasaan kerapkali menggodaku untuk mengakhiri hidupku yang kurasa tak berarti lagi tanpanya. Ampuni aku yang berlebihan mencintai hamba-Mu itu, Tuhan. Ampuni aku yang berani melangkahi takdirku sendiri.
Tuhan, aku begitu rapuh dan kadang tak bisa mengendalikan emosiku sendiri. Rasa kecewaku terhadapnya yang memilih pergi dan kini berbahagia bersama wanitanya perlahan telah membunuh hati dan mematikan nuraniku. Rasa benciku padanya terkadang sangat menyayat dan membuatku sakit sendiri.
Namun Tuhan, perlahan kubuka mata hatiku. Kau telah perlihatkan betapa besar cinta-Mu pada hamba-Mu yang bertahun-tahun mengkhianati-Mu ini, hamba-Mu yang tidak taat dan patuh terhadap-Mu ini. Ampuni aku, Tuhan. Sekali pun aku tak ingin Kau dan aku saling meninggalkan. Kau adalah Segalanya bagiku, Tuhan. Cinta-Mu bahkan jauh lebih besar dari cinta seorang ibu terhadap anaknya. Kau setia mendengarkan keluhanku di setiap doaku. Kau setia memberiku nasihat dan selalu mengembalikan senyumku sesaat duka kembali hadir di hidupku.
Tuhan, dulu kukira kehilangannya adalah akhir dari segalanya. Aku sangat berterimakasih kepada-Mu, Tuhan, atas segalanya. Kau telah tunjukkan siapa dia sebenarnya. Kau telah sadarkanku dari mimpi buruk yang selalu menghantuiku. Ternyata kehilangannya adalah suatu anugrah yang Kau beri untukku. Meski sempat membuang air mata dengan sia-sia, pada akhirnya aku bisa tersenyum bahagia saat aku sadari diriku berada dekat dengan-Mu SETELAH MENJAUHINYA.
Tuhan, aku memang bergelimang dosa. Aku tahu diri. Aku hanya makhluk kecil yang Kau ciptakan untuk beribadah dan bersyukur pada-Mu. Namun seringkali aku mengeluh atas apa yang terjadi dalam hidup yang sementara ini. Seringkali aku lupa diri dan enggan mengucap syukur. Sungguh hina diriku ini.
Tuhan, tunjukkan aku jalan lurus-Mu. Aku tak ingin terjebak dalam lumpur masa lalu yang kelam. Dekat dengan-Mu adalah sesuatu yang tak ternilai harganya, dan yang kuinginkan hanyalah itu. Jauhkan aku dari segala malapetaka yang hendak menghancurkanku. Lindungi aku dari godaan syaitan dan iblis yang seringkali menjerumuskanku. Aku tak ingin mengulang kesalahan yang kubuat di masa lalu. Maka ijinkan aku untuk segera beranjak dari masa lalu itu.
Tuhan, kunantikan takdir dan jodohku yang Kau gariskan untukku. Malaikat hati yang tak menghancurkan namun membuat nyaman, lelaki shaleh yang mengimami bukan malah menjerumuskan, lelaki rupawan yang bagus akhlaknya, lelaki yang fasih membaca Al-Qur’an lagi jujur dan bukan yang fasih bersilat lidah namun pembohong, lelaki yang amanah dan tidak berkhianat, lelaki yang telah Kau ciptakan untuk lengkapi hidupku di dunia dan akhirat. Aamiin.
Tuhan, kupasrahkan segalanya hanya kepada-Mu.

Selasa, 25 Maret 2014

Today it's all about you, Mom...



Dear my beloved Mom...

          Mom, you’re not a perfect person. But you love me perfectly. You’re my best. You give me your best. Without you I’m nothing. To be with you, I’m everything.
          Mom, I know that I can’t be what you want. Because I can’t be perfect. But I’m trying my best to you. I love you Mom. I’m sorry if I have a lot of mistakes to you.
          Mom, please pray for me. Soon, I’ll make you smile because of my success.
          O God, just give her a lot of happiness in her life. I don’t wanna see her cry. I wanna see her smile. Smile because she proud to me.
          Mom, I love you always and forever. No one can change you, no one can replace you. Because you’re the best mom in this world. Because you’re my hero, my everything.
          Happy Birthday, Mom. I hope you’ll always be happy and joy your life. Don’t worry about something because I promised I’ll always stay by your side.
          I love you a lot, Mom...


with Love,

Me

Senin, 24 Maret 2014

love story


JODOH GAKKAN KEMANA-MANA KOK!!!

Tokoh-tokoh           :
\       Angel
\       Mikey
\       Nabella
\       Nadine
\       Christopher
\       Mama dan Papa
\       Oom dan Tante
...
“Angel, tungguin gue dong!”
Kulihat Nadine berlari mendekatiku. Aku tersenyum melihat dia yang tersengal-sengal. Tanpa berbicara sepatahkatapun kami langsung berjalan menuju kantin sekolah. Disana Nabella, sahabat kami, sudah menunggu. Kulihat ada seorang pemuda tampan disampingnya. Siapa itu? Hatiku bertanya-tanya.
“Eh, itu siapa? Pacarnya Nabel?”
            Aku menoleh pada Nadine. Ternyata bukan hanya aku yang bertanya-tanya seperti itu. Ah, itu bukan urusanku.
“Hey, Nab!”
            Nabella menoleh ke arah kami dan tersenyum. Tanpa basa-basi aku langsung duduk didekat Nabella. Nadine pun duduk disampingku. Kulihat Nadine terus memperhatikan pemuda yang kini ada didepannya. Nabella tersenyum melihat Nadine yang kecentilan.
“Angel, Nadine, kenalin ini kakak gue, namanya Mikey,” ujar Nabella.
            Nadine langsung menyambar tangan pemuda itu yang ternyata kakaknya Nabella. Mikey terlihat gusar dengan kelakuan Nadine yang sangat agresif.
“Udah kenalannya Nad?” tanya Nabella pada Nadine. Nadine tersenyum.
            Tak lama kemudian Mikey mengasongkan tangan kanannya padaku. Aku terkejut.
“Aku Mikey,” katanya dengan logat yang agak berbeda dengan kami.
“Angel,” ujarku sambil menjabat tangannya.
            Kulihat Mikey masih memandangiku sejak perkenalan tadi. Eitsss bukannya ge-er ya, reality. Hehehe. Aku sedikit risih dengan tatapan matanya yang terus mengarah padaku.
“Ehemmmmm...,” Nabella mendehem. Sepertinya ia tahu apa yang tengah terjadi.
            Kulihat Mikey berhenti memandangiku. Leganya.
“Eh Nab, tadi Christopher nitip salam,” kataku pada Nabella. Nabella tersenyum manis.
“Siapa tu Christopher? Boyfriend kau ya?” tanya Mikey pada Nabella.
“Bukan,” jawab Nabella.
            Kulihat Nadine masih memperhatikan Mikey. Sepertinya ia menyukai pemuda itu. Atau hanya sekedar naksir ya? Entah...
“Bel, lo ga pernah cerita kalo lo punya kakak,” kata Nadine. Nabella menghela napas.
“Mikey ini kakak tiri gue, selama ini dia tinggal di KL,” jawab Nabella.
            Ooo pantas logat bicaranya seperti tokoh “Upin dan Ipin”. Laaahhh???
            Mikey tersenyum padaku. Aku mulai merasakan hal yang aneh padaku, malu dan salah tingkah. Orang bilang kalau sudah merasakan tanda-tanda seperti itu, itu namanya JATUH CINTA. Oalaahhh apa iya aku jatuh cinta padanya? Oh my God!!! Jangan sampai.
“Ya udah deh Angel, Nadine, gue pulang dulu ya,” kata Nabella, membuat Nadine tercengang.
“Lah, kenapa?? Disini dulu bentar lagi aja,” mohon Nadine.
“Gue mau jalan-jalan ma Mikey nanti sore,” jawab Nabella.
“Gue ikut!!!” kata Nadine, setengah berteriak.
            Gila! Nadine kayaknya beneran ngebet ma tuh cowok. Aku terdiam. Tanpa kusadari kepalaku tiba-tiba tertunduk.
“Kamu kenapa? Sakit?”
            Aku terkejut bukan main saat Mikey bertanya padaku.
“Eeeehh, aku? I’m okay,” jawabku. Mikey tersenyum.
“Udah ya, gue pulang. Yuk Kak,” kata Nabella sambil menarik tangan Mikey.

*
BRUUUKKK!!
            Kulemparkan tasku ke atas meja belajar, namun sayang tak mendarat dengan sempurna. Buku-buku dan novel-novel, serta kitab-kitab puisiku pun jatuh ke lantai tak terarahkan. Namun semua itu tak kupedulikan. Aku langsung berbaring diatas tempat tidurku. Kupejamkan kedua mataku. Lelahnyaaaa... Gumamku. Baru sebentar aku memejamkan mataku, handphoneku berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Nabella.

Angel, jalan yuk. Christopher ngajak gue jalan.
Tapi kasian Kak Mikey kalau ditinggal.
Setengah jam lagi kita jemput lo. Ga boleh nolak!!!

            Jalan????? Aku terkejut bukan kepalang.
“Waduhhh, belum juga ganti baju and mandi. Wah si Nabel sarap nih,” gumamku.
            Jika kutolak ajakannya, wah bisa-bisa ada perang dingin tahun 2011. Jelas di-sms-nya terdapat kata-kata yang memang memaksa, Ga boleh nolak!!! Segera kuraih handukku dan masuk ke kamar mandi.
“Hmmm... Freshhhhh,” gumamku setelah keluar dari kamar mandi.
            Kubuka lemari bajuku dan mulai memilih pakaian yang pantas. Gaun? Kayak mau ke pesta aja. Celana jeans + T-shirt? Males dah. Aduhhhhh pake apa dong??? Aku menggaruk-garuk kepalaku (udah kayak monyet aja gue). Bukan karena gatal, tapi bingung.
            Kulihat  ada sepotong hotpants dan T-shirt yang jarang kupakai. Nah, ini aja deh. Ini kan celana buat hang out. Boleh dah. Kuputuskan untuk memakainya.
            Segera aku menghadap cermin. Kupoleskan bedak seperlunya seperti biasa, dan lipgloss. Ga boleh menorrr!!! Soal rambut, kubiarkan rambutku terurai tanpa sentuhan accecories.
“Sebenernya tanpa make-up juga gue udah manis,” gumamku sambil tersenyum-senyum. Ge-eR.
TOKTOKTOK!!!
            Bi Inah masuk ke kamarku dan memberitahuku bahwa Nabella sudah menungguku di lantai bawah. Aku pun segera keluar dari kamarku dan kuhampiri Nabella.
            Nabella tercengang melihatku. Aku pun sama.
“Aehhh lo kok, celana kita sama sih???” kataku.
“Mana gue tahu,” jawab Nabella.
“SOULMATE,” kataku dibarengi Nabella.
            Kami tertawa bersama sambil berjalan keluar rumah. Saat masuk ke dalam mobil, kulihat Christopher duduk di depan dan jadi sopirnya. Aku tersenyum mengejek. Christopher menoleh.
“Apa lo ketawa? Ada yang lucu?” tanyanya.
Aku berhenti tersenyum, “Ga ada.”
            Kuubah mimik mukaku menjadi tak berekspresi. Nabella tersenyum. Ia duduk disamping Christopher di depan. Dan aku duduk berdampingan dengan......
“Mikey?” Aku terkesiap. Ia tersenyum.
            Belum sempat ia menjawabku, aku sudah memalingkan pandanganku ke depan. Mikey tertunduk.
“Bel, kok Nadine ga dibawa sih?” tanyaku.
“Eh kampret, emangnya si Nadine kucing dibawa-bawa,” kata Christopher.
“Yeee perasaan ga ada kabel yang nyambungin lo ma gue deh,” ujarku. Christopher terkekeh.
“Ga gue ajak, Angel,” jawab Nabella. Jawaban Nabella membuatku kaget.
“Lah kenapa?” tanyaku lagi.
“Karena gue ga suka,” jawab Nabella, simple.
            Aku mengerti. Nabella memang sedikit tidak menyukai Nadine karena Nadine pernah menusuknya dari belakang. Ah leave it!
            Aku tak bertanya lagi. Hanya terdiam. Aku mengeluarkan headset dan memasangkannya ditelingaku. Tanpa peduli pada Mikey yang tengah memperhatikanku, aku tetap menikmati musik yang tengah aku dengarkan di ipod yang sengaja aku bawa. My favorite. K-POP.
            Mikey mencopot headset dari salah satu telingaku dan memasangkannya di telinganya. Aku menoleh. Dia tersenyum.
“K-POP?” tanyanya. Aku mengangguk. Dia lagi-lagi tersenyum padaku. Senyuman itu, senyuman yang manis dan mungkin tidak akan terlupakan. Cieeeee....

*
Dua tahun kemudian.....

BRUUKKK!!!
            Kali ini bukan tas yang kulempar, melainkan tubuhku sendiri, tapi bedanya bukan ke meja belajar, tapi ke ranjang. Hehehe. Kulayangkan pikiranku entah kemana.
            Hmmm... Tak terasa DUA TAHUN cepat berlalu. Setelah aku dan Mikey mengikat janji saat kencan pertama, hari ini Mikey akan pulang ke Jakarta. Dua tahun hubunganku dengannya, dua tahun pula dia meninggalkanku ke negeri seberang, Malaysia. Bahagia rasanya akan bertemu lagi dengan kekasih hati yang telah lama hilang ditelan bumi. LEBAY.
            Aku pun sekarang bukan anak putih-abu lagi. Universitas Indonesia menjadi pilihanku untuk melanjutkan studiku. Bukan hanya aku, Nabella pun sama. Nadine pindah ke luar negeri. Tanpa pamit ia pergi.
            Bunyi handphoneku membuyarkan lamunan indahku bersama Mikey. Sebuah pesan singkat.

Angel, jalan yuk. Ntar pulangnya langsung ke rumah gue.
Oke! Gue jemput bentar lagi.

“Untung gue udah mandi,” gumamku.
            Aku menunggu Nabella menjemputku. Tak lama aku pun mendengar suara klakson mobil Nabella. Aku langsung bangkit dari tempat tidurku dan keluar kamar.
            Kulihat Nabella sudah menungguku di mobil. Aku masuk ke dalam mobil dan duduk disamping Nabella.
“Mikey beneran pulang?” tanyaku. Nabella mengangguk. Aku tersenyum bahagia.
“Kita langsung ke rumah aja ya,” katanya.
“Loh, katanya mau jemput Mikey dulu,” ujarku.
“Tadi Pak Min yang jemput,” katanya. Aku terdiam.
            Sesampainya kami di rumah Nabella, kami langsung masuk ke dalam rumah. Aku dikejutkan dengan kejadian luar biasa yang tak pernah aku bayangkan. Mikey dan Nadine...... Nabella pun sama terkejutnya. Ia memandangku dengan tatapan tak percaya dengan apa yang telah dilihatnya.
            Mikey terkejut melihat kedatanganku yang tiba-tiba. Ia langsung melepaskan Nadine dari pelukannya. Tanpa rasa bersalah Nadine tersenyum. Aku membalas senyumannya, kecut.
“Angel?” Mikey menghampiriku.
            Aku berusaha tenang. Aku tersenyum. Pahit.
“Emmm Nab, gue pulang ya,” kataku pelan pada Nabella.
“Angel gue ga tau soal ini,” ujar Nabella. Aku masih tersenyum.
            Kubalikkan tubuhku kearah pintu, mencoba meraih dunia luar yang mungkin bisa sembuhkan luka hati yang baru saja kualami. Mikey menarik tanganku, namun dengan segera aku menghempaskannya dan pergi tanpa menoleh sedikitpun.
            Saat aku pergi, terdengar suara Nabella melengking, seperti tengah marah. Namun aku tak mempedulikannya. Aku tetap berjalan lurus ke depan. Air mataku terus menerus menetes tiada henti. Sakit rasanya hatiku. Dikhianati oleh dua orang sekaligus. Mikey dan Nadine. Dua orang yang selama ini aku percaya tanpa ragu. Sahabat menusukku dari belakang. Kekasihku mengkhianatiku. PERFECT banget sakitnya!!!

*
            Seminggu berlalu tanpa ingin aku menghubunginya lagi. Bahkan Nabella yang tidak bersalah pun menjadi sasaran kemarahanku. Aku terus menghindari Nabella. Tak pernah aku merasakan ini sebelumya. Sungguh menusuk. Mungkin inilah yang Nabella rasakan saat Nadine mencuri kekasih hatinya dulu.
            Kulangkahkan kakiku memasuki kampus tercintaku. Kulihat Nabella tengah berdiri didepan pintu kelasku. Aku sama sekali tak punya muka untuk berhadapan dengannya. Bukan karena aku telah melakukan salah padanya, tapi karena aku tak ingin kembali mengingat Mikey. Aku bermaksud menghindarinya, namun ia menangkap pikiranku. Ia berlari menghampiriku, menghalangi jalanku.
“Ga ada ruang buat ngehindari gue, Angel,” katanya tiba-tiba dengan nada kesal.
“Gue ga menghindar dari lo, Nabnad,” jawabku datar.
“Ga menghindar?? Trus pas gue ngajak lo jalan lo selalu nolak dengan alasan lo sibuk lah, mau nganter nyokap shopping lah, ngerjain tugas lah atau apa lah. Lo tuh kenapa sih? Kalo soal Mikey, oke gue minta maaf. Tapi gue juga ga tau kalo ada Nadine disitu,” katanya panjang lebar.
            Aku terdiam. Kepalaku tertunduk.
“Gue cuman butuh waktu buat ngobatin sakit hati gue Bel,” kataku dengan suara bergetar.
“Dengan menghindari gue?” tanyanya.
“Gue......,” I’m speechless kala itu. Tak kusangka Nabella tiba-tiba memelukku erat.
“Gue bisa ngerasain yang lo rasain saat ini Angel. Gue juga pernah kayak gini. Tapi sakit hati bukan berarti mati. Lo harus bangkit. Mikey emang kurang ajar. Di rumah juga gue ga pernah saling sapa lagi,” kata Nabella setengah marah. Entah pada siapa.
“Dia kakak lo, Nab. Jangan gitu,” kataku.
“Angel, janji ya mulai sekarang lo ga boleh menghindari gue lagi, please,” mohon Nabella. Aku mengangguk. Nabella tersenyum.
“Berarti nanti kita bisa jalan dong,” katanya lagi.
“Emmmm gue.....,” aku terdiam. Nabella menatapku tajam. Kuanggukkan kepalaku dan tersenyum.

*
 “Angel, nyokap pengen lo datang ke rumah and dinner bareng kita di rumah gue,” kata Nabella di tengah perjalanan menuju mall tempat nongkrong favoritku dengan Nabella.
“Emang ada apa ya?” tanyaku. Nabella menggeleng.
“Gue ga mau,” ucapku.
“Nyokap yang minta, masa lo nolak sih. Jahat banget,” Nabella memasang wajah cemberut.
“Gue ga mau kalo ada Mikey,” kataku tenang. Nabella menoleh.
“OK!!” Ia tersenyum.
            Malam itu setelah Mama mengijinkanku makan malam di rumah Nabella, aku langsung pergi mengendarai Jazz merahku. Sesampainya disana, aku disambut hangat oleh orangtua Nabella. Sungguh pemandangan yang indah.
            Berhadapan dengan kedua orangtua dari orang yang pernah menyakitiku, aku sedikit canggung. Aku hanya terdiam dan terdiam. Tante Dea menangkap kegundahan hatiku kala itu.
“Sayang, kamu kenapa? Ga suka ya dinner bareng Oom dan Tante?” tanyanya.
“Bukannya gitu Tante, aku senang kok,” jawabku sambil tersenyum.
“Oom dan Tante ikut prihatin ya sayang, sama kejadian yang menimpa kamu dan Mikey,” kata Tante Dea.
            Aku tertunduk. Aku sedikit menyesal kenapa Tante Dea malah membahas soal itu.
“Tante, ga usah dibahas ya,” ujarku.
“Maaf ya sayang, Tante  cuman....,”
“Gapapa kok,” jawabku tanpa ekspresi.
            Saat akan memasukkan makanan yang terakhir, aku dikejutkan dengan kata-kata dari Oom Ahsan yang sebenarnya semakin membuatku sakit.
“Oom dan Tante bermaksud untuk menjodohkan Mikey dengan anak dari teman Oom,” katanya.
            Aku tersedak. Kaget. Sakit hati. Marah. Campur aduk. Ini ayah sama aja kayak anaknya, pinter banget bikin orang sakit hati. Nabella pun kaget dengan apa yang didengarnya. Memang sih, Tante Dea dan Oom Ahsan selama ini tidak tahu menahu tentang hubunganku dengan anak mereka.
“Mau dijodohin???” Aku sama sekali tak percaya dengan apa yang kudengar.
“Ya. Bagaimana pendapat kamu? Apa Mikey mau ya?” tanya Tante Dea.
            Aku terdiam tak bergeming.
“Trus apa hubungannya sama aku?” tanyaku pada mereka.
            Kulihat Tante Dea dan Oom Ahsan saling berpandangan.
“Tante dan Oom tahu kalau Mikey nurut banget sama kamu,” jawab Oom Ahsan.
            Aku menatap Nabella. Ia pun sangat kaget mendengar apa yang diucapkan oleh orangtuanya.
“Pa, Ma...,” Nabella menatap tajam kedua orangtuanya.
“Aku ga bisa bantu apa-apa Tan. Semua keputusan kan ada ditangan Mikey sendiri,” ujarku tanpa merubah nada suaraku..
“Mungkin kamu tahu siapa pacarnya Mikey. Tante nanya sama Nabel tapi dia ga mau jawab,” kata Tante Dea.
            Nabella menatapku. Aku tersenyum padanya.
“Ya ga penting siapa pacarnya Mikey, kalo Oom dan Tante berpikir itu yang terbaik kenapa engga. Mikey pun ga mungkin nolak kali,” kataku enteng.
            Tak peduli rasa sakit yang menusuk-nusuk di jantungku. Aku sadar, aku bukan siapa-siapa Mikey lagi. Pacarnya Mikey sekarang kan bukan gue, tapi sahabat gue, eh maksudnya mantan sahabat. Lagian kalo emang jodoh, gakkan ketuker kok. Jodoh gakkan kemana-mana, pikirku.
            Segera kusingkirkan pikiran anehku yang tiba-tiba muncul itu. Hmmmmm....

*
“Sayang, nanti malam kamu dandan yang cantik ya,” kata Mama ketika aku baru pulang dari kampus.
“Emang mau kemana, Ma?” tanyaku heran. Mama tersenyum.
            Tiba-tiba aku dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang selama ini aku rindukan.
“Papa!!!!!!!!!!!!!” Aku tersenyum lebar.
            Papa memelukku. Hangat.
“How are you Princess?” tanyanya.
“I’m  not so......,” aku terdiam. Papa menatapku.
“What’s wrong Princess?” tanyanya lagi
“Ga ada apa-apa kok, Pa,” jawabku. Tenang.
            Papa mengelus-elus rambutku.
“Sudahlah, nanti malam kamu dandan yang cantik ya. Kita pergi makan di luar,” katanya.
            Aku menoleh pada Mama. Senyumku merekah.
“Siapppppppp!!” jawabku mantap.
            Malam ini terasa begitu istimewa. Papa pulang dengan membawakan berbagai bingkisan mulai dari baju, gaun pesta, perhiasan, sepatu, dan lain-lain. Bahagia sekali. Dan yang lebih spesial adalah malam ini kami akan makan malam di luar. Jarang-jarang kan...
            Aku bercermin dan tersenyum. Entah kenapa malam ini aku hanya ingin tersenyum. Bahkan saat aku ingat Mikey pun aku tetap tersenyum. Seperti pesan Papa tadi sore, aku berdandan spesial namun pantas. Mengenakan gaun indah pemberian Papa.
TOKTOKTOKKK!!
            Bi Inah masuk ke kamarku dan tersenyum.
“Cantik, Non. Hehehe,” pujinya. Aku tersenyum.
“Makasih Bi,” kataku.
“Oh iya Non, Tuan dan Nyonya sudah menunggu di bawah,” katanya lagi. Aku mengangguk.
            Segera aku keluar kamar dan turun ke lantai bawah. Begitu mereka melihatku turun, mereka tersenyum. Aku tak sabar untuk mendengar pujian dari mereka.
“Owww my Princess is so beautiful tonight,” kata Papa. Aku terkekeh.
She’s like me, Hubby. She’s my daughter,” kata Mama. Aku tersenyum melihat mereka.
“Yaudah, ayo berangkat!!” ujarku tak sabar.
“OK, let’s go!”
            Didalam mobil seperti biasa aku hanya terdiam mendengar apa yang kudengar dari headsetku.
“Pa, Ma. Kita mau kemana sih?” tanyaku.
“Nanti kamu juga tahu sayang,” jawab Mama.
“Bukan hanya kita sayang, tapi disana akan ada teman Papa dan keluarganya,” kata Papa.
“Teman Papa? Siapa?” tanyaku lagi.
“Jangan banyak tanya,” kata Mama.
            Aku langsung membungkam mulutku. Aku memang penasaran.
“Nah, sudah sampai,” kata Papa.
            Kami pun turun dari mobil. Di dalam sana kulihat ada satu keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak remaja seumuranku. Tanpa banyak tanya aku mengikuti Papa dan Mama masuk ke tempat yang sudah dipesan untuk pertemuan keluarga kami
            Begitu terkejut saat kulihat dua remaja itu adalah Mikey dan Nabella. Kulihat Mikey dan Nabella tak kalah kagetnya denganku. Papa, Mama, Tante Dea, dan Oom Ahsan pun tercengang.
“Loh, jadi Angel itu anakmu?” tanya Tante Dea pada Mama.
“Mikey tu anakmu, San?” tanya Mama pada Oom Ahsan, tak percaya.
            Aku menatap Nabella, mencoba menerka apa yang tengah terjadi.
“Eh sampai lupa mempersilahkan kalian duduk. Ayo duduk,” kata Oom Ahsan pada keluarga kami.
“Ini ada apaan sih Ma, Pa?” tanyaku heran.
            Mama dan Papa serta Tante Dea dan Oom Ahsan tersenyum. Kulihat Mikey pun tampak bingung. Nabella hanya menatapku.
“Jadi Mama dan Papa mau jodohin mereka berdua??” tanya Nabella pada orangtuanya.
            Aku dan Mikey terkejut bukan main.
WHAT????” aku menoleh ke arah Mikey. Mikey pun menatapku tak percaya.
            Aku shock setengah mati. Gue dijodohin ma cowok ini?? Oh My God!!
“Mimpi apa gue semalam....,” gumamku.
“Kenapa? Tak nak?” tanya Oom Ahsan.
            Belum sempat aku memberi jawaban, Mikey tiba-tiba menjawab.
“Aku nak. Tapi tak tau dia,” jawabnya sambil melirik ke arahku. Aku terdiam.
            Seenaknya dia menjawab “MAU”. Lupakah ia tentang kejadian sembilan hari yang lalu? Dimana kulihat ia tengah memeluk sahabatku, ah bukan, mantan sahabat tepatnya, dan berciuman didepanku. Tepat didepanku.
“Pa, Ma, Tante, Oom, aku nak minta ijin tuk ajak Angel cakap-cakap,” kata Mikey.
            Mikey bangkit dari kursinya dan menarik tanganku. Aku menghempaskan tangannya dan berdiri. Berjalan tanpa menoleh padanya.
            Di taman hanya ada aku dan Mikey. Ia meraih tanganku. Aku berusaha menghempaskannya, namun kali ini dia menggenggam tanganku erat sampai aku merintih kesakitan. Saat aku mulai menangis karena kesakitan, ia pun akhirnya melepaskan genggamannya.
“Aku nak cakap perihal tu,” katanya. Aku terdiam.
“I LOVE YOU, please believe me,” katanya lagi.
            Aku tersenyum sinis.
“WHAT??? Percaya? Sama kamu? WOWWWW!!!” jawabku sinis.
“Aku tahu aku salah. I’ve broken your heart. But really I love you,” katanya sambil meraih tanganku.
“Udahlah Kak, pengkhianat tetap pengkhianat,” kata-kataku lumayan pedas.
“Angel, kau tak tahu perasaanku. Aku cuma mau kamu,” ujarnya memohon padaku.
“Kak, jangan paksa aku. Kakak ga tau perasaan aku waktu kakak dan Nadine ciuman didepan mataku sendiri. SAKITTTTT!!!!” kataku tetap datar sambil memegang dadaku.
“Tu dia yang cium aku tiba-tiba. Dia datang dan langsung peluk aku sambil menangis. Aku pikir ada apa. Tapi ternyata dia cium aku ketika melihat kau datang,” jelasnya.
            Sebenarnya aku tak mau lagi percaya padanya. Namun matanya menceritakan kejujuran. Dia memohon maaf sambil bersujud dan bersumpah bahwa ia sebenarnya tidak menginginkan hal itu terjadi. Aku membungkuk dan memeluknya. Ia membalas pelukanku. Sungguh kurasakan kehangatan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Nyaman. Tenteram. Damai.
“Will you marry me, Angel?”
            Aku terkesiap. Kaget namun bahagia. Tanpa basa-basi dan keraguan lagi aku jawab.........
“Yes I do!!”
            Mikey tersenyum. Masih senyuman yang sering dia berikan untukku dua tahun yang lalu.. Manis.

~THE END~