Tuhan, malam ini aku merasakan
hatiku bergemuruh pilu saat kalimat istigfar terucap dari bibirku yang ikut
basah tertetesi air mata yang jatuh dari pelupuk mataku. Tubuhku mendadak lemas
tak berdaya di hadapan-Mu.
Tuhan, aku tahu bahwa rencana-Mu
jauh lebih indah dari apa yang kuinginkan selama ini. Aku ikhlas menerima semua
cerca yang hamba-Mu dari golongan Adam ucap terhadapku. Aku ikhlas merasakan
perihnya hati saat aku tahu dia berkhianat dari janjinya kepadaku. Aku ikhlas
menghadapi semua ujian hidup yang Kau beri untukku. Aku ikhlas atas nama-Mu,
Tuhan...
Tuhan, kehilangan seseorang yang
sangat berarti dan sangat dicinta adalah duka terdalam yang seringkali
kurasakan. Keputusasaan kerapkali menggodaku untuk mengakhiri hidupku yang
kurasa tak berarti lagi tanpanya. Ampuni aku yang berlebihan mencintai hamba-Mu
itu, Tuhan. Ampuni aku yang berani melangkahi takdirku sendiri.
Tuhan, aku begitu rapuh dan kadang
tak bisa mengendalikan emosiku sendiri. Rasa kecewaku terhadapnya yang memilih
pergi dan kini berbahagia bersama wanitanya perlahan telah membunuh hati dan
mematikan nuraniku. Rasa benciku padanya terkadang sangat menyayat dan
membuatku sakit sendiri.
Namun Tuhan, perlahan kubuka mata
hatiku. Kau telah perlihatkan betapa besar cinta-Mu pada hamba-Mu yang
bertahun-tahun mengkhianati-Mu ini, hamba-Mu yang tidak taat dan patuh
terhadap-Mu ini. Ampuni aku, Tuhan. Sekali pun aku tak ingin Kau dan aku saling
meninggalkan. Kau adalah Segalanya bagiku, Tuhan. Cinta-Mu bahkan jauh lebih
besar dari cinta seorang ibu terhadap anaknya. Kau setia mendengarkan keluhanku
di setiap doaku. Kau setia memberiku nasihat dan selalu mengembalikan senyumku
sesaat duka kembali hadir di hidupku.
Tuhan, dulu kukira kehilangannya
adalah akhir dari segalanya. Aku sangat berterimakasih kepada-Mu, Tuhan, atas
segalanya. Kau telah tunjukkan siapa dia sebenarnya. Kau telah sadarkanku dari
mimpi buruk yang selalu menghantuiku. Ternyata kehilangannya adalah suatu
anugrah yang Kau beri untukku. Meski sempat membuang air mata dengan sia-sia,
pada akhirnya aku bisa tersenyum bahagia saat aku sadari diriku berada dekat
dengan-Mu SETELAH MENJAUHINYA.
Tuhan, aku memang bergelimang dosa.
Aku tahu diri. Aku hanya makhluk kecil yang Kau ciptakan untuk beribadah dan bersyukur
pada-Mu. Namun seringkali aku mengeluh atas apa yang terjadi dalam hidup yang
sementara ini. Seringkali aku lupa diri dan enggan mengucap syukur. Sungguh
hina diriku ini.
Tuhan, tunjukkan aku jalan
lurus-Mu. Aku tak ingin terjebak dalam lumpur masa lalu yang kelam. Dekat
dengan-Mu adalah sesuatu yang tak ternilai harganya, dan yang kuinginkan
hanyalah itu. Jauhkan aku dari segala malapetaka yang hendak menghancurkanku.
Lindungi aku dari godaan syaitan dan iblis yang seringkali menjerumuskanku. Aku
tak ingin mengulang kesalahan yang kubuat di masa lalu. Maka ijinkan aku untuk
segera beranjak dari masa lalu itu.
Tuhan, kunantikan takdir dan
jodohku yang Kau gariskan untukku. Malaikat hati yang tak menghancurkan namun membuat
nyaman, lelaki shaleh yang mengimami bukan malah menjerumuskan, lelaki rupawan
yang bagus akhlaknya, lelaki yang fasih membaca Al-Qur’an lagi jujur dan bukan
yang fasih bersilat lidah namun pembohong, lelaki yang amanah dan tidak
berkhianat, lelaki yang telah Kau ciptakan untuk lengkapi hidupku di dunia dan
akhirat. Aamiin.
Tuhan, kupasrahkan segalanya hanya
kepada-Mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar